Jadi, jika kamu sedang mengalami kebosanan (stuck) di pekerjaan kamu sehari-hari, mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk melakukan ‘pivot’. Namun bukan berarti kamu harus mencoba sesuatu yang 100% berbeda, atau mengajukan resign hari Senin besok. Skill yang sudah kamu bangun selama ini adalah modal kamu, di samping pengetahuan yang kamu miliki mengenai perusahaan tempat kamu bekerja sekarang.

Dengan langsung membanting setir dan berpindah pekerjaan, artinya kamu melepaskan dua aset berharga, yaitu keahlian dan pengalaman. Pivot terpintar yang dapat kamu lakukan adalah mencoba hal lain yang masih berhubungan dengan keahlian dan pengetahuan kamu saat ini.

Rizqi Maulana sudah bersama kami semenjak kami masih memiliki pembahasan game. Kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pembahasan game, dan Rizqi pun turut berubah menjadi penulis startup dan teknologi. Terakhir, Rizqi memutuskan untuk melakukan ‘pivot’ dengan membuat data visual (berurusan dengan Google Data Studio dan pengolahan spreadsheet) serta infografik. Meski jabatan Rizqi sebagai Writer tidak berubah, tapi sepanjang karier dia terus mendorong diri dan melakukan pivot di luar comfort zone.

Jika kamu sedang memikirkan hal yang sama, maka Jenny Blake, mantan manajer Program Pengembangan Karier di Google, punya tips bagus yang saya rangkum di bawah ini.

Apa bagian paling menyenangkan atau terbaik dari pekerjaan kamu sekarang? 

Ini dapat menjadi indikasi skill utama kamu, karena orang cenderung menyukai hal yang mereka kuasai. Kamu sebaiknya menjadikan skill tersebut sebagai fondasi dasar dari pivot yang akan kamu lakukan.

Jika pivot ini sukses, maka apa definisi dari kesuksesan tersebut? 

Menjawab pertanyaan ini akan memberikan kamu arah atau target, sehingga kamu punya gambaran apa yang ingin dicapai. Misalnya, saya ingin menjadi jurnalis yang bukan saja menyampaikan berita tapi juga dapat melakukan investigasi dan melihat hubungannya dengan kejadian lain. Saya ingin bisa melihat sebuah kejadian dari sudut pandang yang lebih besar

Siapa orang yang menjadi panutan kamu ?

Memiliki mentor akan mempercepat proses pivot ini. Sosok panutan tersebut bisa datang dari internal perusahaan maupun dari luar. Namun, yang terpenting adalah apakah orang ini dapat dihubungi dan dimintai bantuan. Kebanyakan orang akan senang untuk membagikan pengalaman mereka, jadi jangan ragu untuk bertanya.


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *