Salah satu keuntungan startup (dan mungkin dapat juga disebut kutukannya) adalah kondisi kerja yang sangat dinamis sekali. Setiap minggu ada sprint yang berbeda, pergantian tahun pun kadang menyebabkan strategi dan arah perusahaan berubah.

Perubahan ini mungkin terasa mengganggu rutinitas, dan membuat orang bertanya, “ini perusahaan mau ke mana sih?” Namun di saat yang sama, situasi tersebut juga menghadirkan dinamika baru bagi anggota tim.

Namun bagaimana jika pekerjaan yang sudah kita jalani selama ini terkesan membosankan dan tidak pernah ada perubahan berarti?

Jika kita menanyakan hal tersebut pada sebuah startup, maka mereka mungkin akan merekomendasikan untuk melakukan pivot jika bisnis sudah mulai stuck atau malah menurun. Walaupun ini terdengar seperti hal yang negatif, tapi hasilnya belum tentu buruk. 

YouTube sebelum menjadi platform video seperti yang kamu kenal sekarang adalah sebuah situs kencan berbasis video. Mereka mandek dengan produk mereka, lalu memutuskan untuk melakukan pivot, dan sisanya adalah sejarah.

Ketika sebuah startup melakukan pivot, mereka akan mencoba sesuatu yang baru, tapi dengan tetap menggunakan pengalaman dan keahlian mereka.

Pada contoh di atas, YouTube berhasil mengubah platform online dating menjadi platform untuk berbagi video. Keahlian mereka adalah video online, dan berdasarkan pengalaman mereka mempelajari bahwa banyak pengguna yang justru menggunakan YouTube untuk memamerkan hewan peliharaan mereka, daripada mencari jodoh.


0 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *